indoroids
Newbie
Karma: 0
Posts: 11
mbahmar1jan@yahoo.com
|
 |
« Reply #1 on: August 27, 2008, 02:30:13 PM » |
|
Btw, masukan untuk developer grand wisata (jika ada yang baca). buatlah website untuk memperkenalkan perumahan ini. Karena, banyak sekali orang yang search “grand wisata” di google, dan masuk ke blog saya ini. Untuk orang yang membaca sekilas, mengira ini adalah komplain, dan mereka mendapatkan pandangan negatif…huhu
sebenarnya membeli rumah di GW tidak rugi (malah “untung” bagi sebagian kalangan). Yang rugi itu perekonomian di kawasan tersebut.
Kalau mau dianalisa lagi dampak kehadiran perumahan elit terhadap perekonomian daerah sekitar, ada 2 kemungkinan.
Pertama, Pertumbuhan perekonomian kawasan sekitar meningkat. Dengan hadirnya perumahan kelas atas dapat menarik masyarakat kelas menengah atas pindah ke daerah tersebut. Dengan semakin padatnya daerah tersebut akan kalangan elit, kegiatan ekonomi di daerah ini tentunya akan meningkat. Kemungkinan pertama ini dapat benar2 terjadi jika rumah2 yang didirikan developer itu benar2 terisi oleh pembeli. Jika rumahnya banyak yang kosong, ya sama saja, tidak akan ada pertambahan kegiatan ekonomi di sini. Sayangnya perumahan2 kelas atas yang didirikan developer masih banyak yang kosong. Dan walaupun kemungkinan pertama ini terjadi (rumah terisi penuh oleh para pembeli), yang banyak mengambil keuntungan adalah masyarakat kelas atas yang mampu membeli rumah itu. Sedangkan bagi masyarakat kelas bawah, kenaikan harga tanah akibat efek pembagunan perumahan elit memaksa mereka untuk mencari rumah ke daerah yang lebih jauh lagi dari tempat kerja mereka.
Kemungkinan kedua, pertumbuhan perekonomian kawasan sekitar melambat. Kondisi ini terjadi jika rumah2 yang sudah dibeli ternyata tetap kosong. Tidak ada pertumbuhan perekonomian. Nah, yang parahnya adalah kenaikan harga tanah di daerah sekitar membuat kebutuhan hidup masyarakat meningkat. Perusahaan2 yang terletak di sekitar kawasan perumahan itu tentunya merasakan dampaknya. Biasanya, beban per karyawan cukup katakanlah 1 juta perbulan. Tapi karena terjadi peningkatan kebutuhan hidup (terutama biaya tempat tinggal, dan tak menutup kemungkinan biaya2 lainnya), beban per karyawannya bisa menjadi 1,2 juta. Memang tidak besar, tapi perlu diingat, biasanya perusahaan di daerah komuter adalah perusahaan dengan jumlah karyawan yang besar. 1 perusahaan ribuan orang. Tentunya dampak beban karyawan ini cukup memberatkan. Sedangkan perusahaan2 ini adalah motor penggerak perekonomian di kawasan tersebut. ~Berbeda dengan perusahaan kantoran yang lebih mencari lokasi strategis yang dapat menciptakan image, biasanya perusahaan manufaktur mencari lokasi yang terefisien dalam hal pengeluarannya~ . Dampak perlambatan perekonomian ini memang tidak terjadi secara langsung, tetapi lambat laun memberikan pengaruh. Just info, saat ini pertumbuhan industri di vietnam perlu sedikit diwaspadai Indonesia. Biaya produksi yang murah dan jaringan operasional yang lebih baik di vietnam membuat investor2 luar negeri banyak yang memindahkan rencana investasinya dari Indonesia ke Vietnam. sukur2 jika pabriknya tidak tutup dan dipindah ke vietnam.
Alangkah bagusnya jika perumahan elit muncul, tetapi dimaksudkan untuk mewadahi permintaan dari masyarakat yang memang membutuhkan rumah di daerah tersebut. Saya sedikit kecewa dengan pemerintah yang justru mendorong pertumbuhan sektor properti dengan cara “investasi” ini. Tadi siang saya baru dari Balikpapan. Di bandaranya, ada iklan dari pemerintah kota setempat yang mengkampanyekan pembelian real estate di kota itu sebagai investasi yang sangat bagus. Menurut saya, pertumbuhan sektor properti seharusnya adalah efect dari pertumbuhan perekonomian riil (perdagangan, produksi, jasa, dll), bukan cause untuk memaksakan pertumbuhan perekonomian secara overall.. Terlalu riskan meletakkan sektor properti sebagai ujung tombak perekonomian, apalagi di negara dengan penduduk sepadat Indonesia. Mungkin jika di negara maju yang jumlah warganya sedikit, memiliki lahan yang masih sangat luas, perencanaan pembangunan infrastruktur yang baik, sektor properti bisa dijadikan sebagai unggulan. Indonesia yang tingkat kepadatannya sangat tinggi perlu kehati2an dalam hal perencanaan pengembangan kota / antarkota. Karena jika salah, pengaruhnya pada masa depan sangat besar. Sayangnya, pemerintah justru terbawa arus aktivitas developer yang semakin agresif.
*) Saya tidak sedang membicarakan GW saja lho, tapi juga perumahan menengah atas secara umum..
Grand Wisata hanyalah satu fenomena diantara banyaknya “mega” proyek properti yang pada akhirnya hanya sebagai tempat parkir uang para pembeli (spekulan) properti. Selain di bidang perumahan (kelas menengah keatas), hal ini juga terjadi di sektor2 properti yang lain seperti Apartment, Sentra Bisnis (Ruko, ITC, WTC, etc). Memang pada saat launch, semua unit akan laku terjual tapi apakah setelah itu pembeli akan langsung menempati?Eits…nanti dulu, kebanyakan para pembeli tadi bukanlah orang2 yang butuh tempat tinggal, tapi pembeli yang tujuannya untuk investasi. Kondisi ini akan mengakibatkan banyak uang yang parkir di sektor2 properti, yang tentu saja tidak akan menggerakkan ekonomi di sektor riil.
Memang ada perbedaan antara investor dan pemakai(end user),si investor membeli untuk menjual ulang(gaya spekulan)atau disewakan, berhubung banyak yang berasumsi karena dekat daerah industri maka kemungkinan sewa dari rumah2 di GW menjanjikan, namun apapun alasannya untuk developer2 terutama yang ternama pasti mempunyai komitmen untuk menyediakan prasarana dan fasilitas yang memberi kenyamanana pada penghuninya. Masalah bakal ramai tidaknya adalah masalah nanti dan tidak berhubungan dengan kualitas perumahan tersebut , salah bila dianggap karena sepi maka suatu kawasan properti adalah tidak bagus.
BTw mengenai konsep properti sebagai efek dari pertumbuhan sektor riil dan bukan sebagai ujung tombak ,saya kurang setuju karena Dengan masyarakat menanamkan modal ke sektor properti maka otomatis ada efek domino ke bidang perdagangan dan jasa..otomatis akan meningkatkan usaha bahan bangunan,jasa kontraktor, jasa perbankan, jasa penjualan marketing/broker,jasa kepengurusan pertanahan dll…dan kawasan sekitar pun akan cenderung berkembang terutama untuk perumahan pasti di sekitarnya akan ada minimal warung2 kecil sampai toko2 ukuran sedang hingga besar, bengkel, klinik, usaha warnet, kursus..dan banyak lagi..sebenarnya bidang properti adalah bidang yang unik dan sangat mendukung ke sektor lain dalm hal ini sektor riil selama ditangani dan diatur dengan baik..Selama ini developer cenderung sadar tidak sadar menjadikan investor sebagai MAIN MARKET dibanding END USER,terutama investor jenis spekulan yang membeli untuk dijual kembali saat harga naik sehingga developer membeli lahan2 murah di pinggir kota lalu setelah beberapa waktu menetapkan kenaikan harga yang terlalu cepat dengan margin yang gila2an agar si spekulan tidak merasa rugi membeli properti tersebut … A little advice: kalo mau invest janganlah bergaya spekulan..properti bukan saham atau yang lebih parah lagi dari itu investasi indeks (yang cepat untung cepat rugi)…kebanyakan di luar negeri investasi properti tidak untuk Re-Sell tapi untuk Rental >>>PROPERTY IS A LONG TERM INVESMENT. THE PRICE OF A PROPERTY WILL BE NATURALLY INCREASED(ini bukan hukum yang baku tapi umumnya harga properti pasti cenderung naik), but IF THE PRICE INCREASE IS ARTIFICIALLY CREATED IT IS A PREMATURE INCREASE>>>>>JADI MBOK YAA SAAAAAAAABARR!!!
gak jelas peraturan di indonesai , satu orang punya rumah 10 unit, yang punya pendapatan pas pasan gak punya rumah sama sekali, habis udah di borong ama yang punya duit sih.
setiap pergi ke lokasi, maaf udah laku semua. yang ada tinggal 500 jt. gubrak…..siapa yang mo beli 500 jt. yang 100 juta aja masih KPR . itu juga kalau di approve.
emang nih, yang punya duit lama lama kurang ajar nih. mentang mentang punya duit main hajar aja gak pake perasaan. emang ya kalau dipikir orang indonesia itu gak punya hati ya kadang kadang. beli rumah buat investasi sementara yang lain buat berteduh aja gak punya.
Gue punya usul nih buat pemerintah ( kalau mau sih ) bagi warga negara yang ingin mempunyai rumah lebih dari 2 harganya 2 kali lipat dari harga aslinya. dan sisa uangnya di subsidi kepada orang miaskin yang belum punya rumah. keren gak sih ide gue…???
Kalo kita beli rumah,apa sih yang kita cari?Suasana yang nyaman,tenang,enak buat istirahat setelah capek jualan,akses gampang,nilai property yang terus berkembang,trus apalagi?Menurutku sih mungkin karena prospeknya yang oke,GW jadi ajang spekulan,bahkan aku denger dari satpam di cluster east esplanade ada orang beli rumah 20 biji sekaligus,padahal harga per biji ga kurang 1.3M.Gila,ya?Jadi totalnya 26M lebih.Tapi buat kita apa ruginya?Karena kita beli karena butuh rumah yang ideal menurut kita kan?Kalo jadinya lingkungan tetep sepi ya kan ga apa2,yang penting fasos yang dijanjiin tetep dibangun.Menurutku untuk ukuran proyek yang belum seumur jagung(belum genep 5 tahun)keadaan yang sekarang ini/sepi wajarlah.Coba nanti kolam renang jadi,sekolah udah jadi,danau jadi,pasti rame.Kalo ga rame oleh penghuni,paling ga dari lingkungan perumahan2 di sekitar GW.
Tadinya sudah mau ambil rumah di Grand Wisata; tapi saya lihat rukonya semuanya pada sepi, yang ada hanyalah kertas ditempelkan di kaca; dikontrakkan, dijual, hubungi agent properti ini-itu. Kulihat sudah lama launching, tapi tetap sepi. Akhirnya saya tidak jadi ambil. Sekarang lagi tunggu launching apartemen di Bekasi Square yang kudengar bulan Juli ini! Kayaknya akan lebih baik, karena kalau mau belanja bisa langsung ke carrefour! Kalau mau ke Jakarta juga gampang, semua bis Mayasari lewat di depannya!
sekarang rukonya sudah bnyk yg buka di GW…udah ada bank mandiri,indomart,alfamart,plaza bangunan,panin bank,rollies steak,cwie mie malang,roseli batik,warnet dan sebentar lagi di pasar modern akan dibangun bank bca,mereka membeli 4 unit ruko…perumahan GW baru ada sekitar 3thn…tp sudah lumayan tuk ukuran perumahan di bekasi…keman pratama n lippo cikarang aja membutuhkan wkt lbh dari 3thn tuk jadi seperti sekarang…logis kan??? apalagi disitu sedang dibangun RS.Hermina n sekolah ipeka yg menag olimpiade biologi international….jgn pesimis dulu
di GW tidak akan pernah banjir…karena gak ada kali atau sungai yg asalnya dari kerawang maupun bogor…posisinya lebih tinggi dari permahan sekitar…tanahnya jg subur bisa gunakan sumur tanah…
saya tinggal di cluster pertama yang dibangun dan sudah tinggal 1 tahun lebih di gw (sebelum pintu tol gw diresmikan . Pertama kali tinggal di gw, memang sepi sekali (hanya beberapa rumah yang sudah ditempati), waktu itu ruko belum jadi. Sekarang pintu tol sudah dibuka, sudah ada 2 mini market ada bank dsb, suasana di gw jadi lebih ramai. Kalau mau kondisi yang lebih ramai dari sekarang, ya sabar aja.. tunggu 1-2 tahun lagi.. pasti lebih ramai apalagi kalau itc jadi dibangun
Kami juga calon penghuni GW September 2008. Sy merasa byk dirugikan oleh aturan GW, contoh saat bikin kanopi, tukang nya di pakalin satpam, listrik rmh sy sj yg di matikan lbh dari 1 hari yg menyebabkan pekerjaan terlambat (ada pengalaman yg sama?) izin sih sudah ada, lengkap malah, semua aturan sdh saya ikuti, tapi memang dasar satpamnya belagu seperti preman, dia seenaknya mengancam tukang canopi, dengan meminta uang. pada saat tukang canopi tidak memberikan tips malah aliran listrik dipanelnya tiba tiba mati selama 1.5 hari (Hanya rumah saya saja). dan mereka meminta tips untuk menghidupkan kembali panel tsb. suatu hal yg tidak masuk akal panel 25 A putus padahal panel rumah saya hanya 10 A.?? (pada saat saya perikasa ternyata pintu panel tesebut tidak terkunci…???. Intinya sih saya tidak suka dengan cara cara Satpam bagaikan preman, saya merasa terintimidasi….
Denger-denger di GW cluster River Town ada rumah yang kemalingan dan total kehilangan sampai 150 juta… ih serem juga ya…mana masih sepi…Bagaimana sistem keamanannya dong??
|